Saturday, 18 April 2020

Dendam Quroisy Terhadap Kaum Muslimin


Bagaimana sejarah perang Uhud ? - Muhsin - Dictio Community
Setelah genap setahun pasca Perang Badr, persiapan orang-orang Quroisy untuk membalas kekalahan mereka benar-benar sudah matang. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Quroisy sudah berhimpun bersama sekutu-sekutu mereka dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quroisy berfikir untuk membawa serta para wanita pada perang Uhud. Karena hal ini dianggap bisa mengangkat semangat mereka. Adapun jumlah wanita yang diikutsertakan ada lima belas orang. Hewan pengangkut dalam pasukan Makkah ini ada tiga ribu onta. Penunggang kudanya ada dua ratus, yang disebar di sepanjang jalan yang dilaluinya, dan mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.
 Komandan pasukan yang tertinggi dipegang Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan penunggang kuda dipimpin Kholid bin Al-Walid, dibantu oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Adapun bendera perang diserahkan kepada Bani Abdid Dar.

Setelah persiapan dirasa cukup, pasukan Quroisy Makkah mulai bergerak menuju Madinah. Hati mereka bergolak karena dendam kesumat dan kebencian yang ditahan-tahan sekian lama, dan ini siap diledakkan dalam peperangan yang dahsyat.

Mata-mata Nabi
Sayyidina Al-Abbas bin Abdul Muththolib yang masih menetap di Makkah terus-menerus memata-matai setiap tindakan Quroisy dan persiapan militer mereka. Setelah pasukan berangkat, maka Al-Abbas mengirimkan kabar surat kilat kepada Nabi Muchammad SAW, berupa kabar secara rinci tentang pasukan Quroisy. Secepat kilat utusan Al-Abbas pergi menyampaikan surat, menempuh perjalanan antara Makkah dan Madinah hanya jangka waktu tiga hari. Dia menyertakan surat itu tatkala Beliau sedang berada di Masjid Quba’.

Beliau menyuruh Ubay bin Ka’ab untuk membacakan surat tersebut dan memerintahkan untuk merahasiakannya. Seketika itu pula beliau pergi ke Madinah, lalu membicarakan permasalahannya dengan para pemuka Muhajirin dan pemuka Anshor.

Madinah dalam keadaan siaga satu. Tak seorangpun lepas dari senjatanya. Sekalipun mereka dalam keadaan sholat, mereka tetap dalam keadaan siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ada sekumpulan Anshor, seperti Sa’id bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Sa’ad bin Ubadah yang senantiasa menjaga RosuuluLLooh SAW. Mereka selalu berada di dekat pintu rumah beliau. Setiap gerbang pintu Madinah pasti ada sekumpulan penjaga, karena dikhawatirkan musuh menyerang secara tiba-tiba. Ada pula sekumpulan orang-orang Muslim yang bertugas mematai-matai setiap gerakan musuh. Mereka berputar-putar di setiap jalur yang bisa dilalui orang-orang Musyrik untuk menyerang orang-orang Muslim.

Pasukan Makkah Tiba
Pasukan Makkah meneruskan perjalanan, mengambil jalur utama kea rah barat menuju Madinah. Setibanya di Abwa’, Hindun bin Uthbah, istri Abu Sufyan mengusulkan untuk menggali kuburan Ibunda RosuuluLLooh SAW. Namun para komandan pasukan Quroisy menolak utusan ini. kali ini mereka bersikap sangat hati-hati terhadap akibat yang harus dihadapi jika mereka berbuat seperti itu.

Maka para pasukan melanjutkan perjalanan hingga mendekati Madinah. Mereka melalui Wadi Al-Aqiq, lalu membelok ke arah kanan hingga tiba di dekat bukit Uhud, di suatu tempat tersebut Ainain, di sebelah utara Madinah. Pasukan Quroisy mengambil tempat di sana pada hari Jum’at pada tanggal enam Syawwal tahun ketiga Hijriyah.

Musyawarah Strategi
Kabar tentang pasukan Makkah terus menerus disampaikan oleh mata-mata, termasuk kabar terakhir tentang tempat yang diambil pasukan Makkah. Saat itu RosuuluLLooh SAW sedang menggelar majlis permusyawaratan militer, untuk menampung berbagai macam pendapat dan menentukan sikap. Dalam kesempatan itu pula beliau juga menceritakan mimpi yang dialaminya. Beliau bersabda, “Demi ALLooh, aku telah mengalami mimpi yang bagus. Dalam mimpi itu kulihat beberapa ekor lembu yang disembelih, kulihat di mata pedangku ada rompal dan aku memasukkan tanganku dalam baju besi yang sangat kokoh.”

Beberapa ekor sapi itu dita’wil (ditafsir) dengan beberapa orang para sahabat yang terbunuh, maka pedang beliau yang rompal itu dita’wili dengan anggota keluarga beliau ada yang tertimpa musibah dan baju besi mereka ta’wil dengan Madinah.

Dengan mimpinya itu beliau mengusulkan kepada para sahabat agar tidak perlu keluar dari Madinah, cukup bertahan di dalam Madinah. Jika orang-orang musyrik ingin tetap bertahan di luar Madinah tanpa mau melakukan serangan, biarlah mereka berbuat seperti itu dan keadaan ini dibiarkan menggantung tanpa adanya sebuah kejelasan. Jika mereka masuk ke dalam Madinah, maka orang-orang Muslim akan menyerbu mereka dari mulut-mulut gang dan para wanita melancarkan serangan dari atap-atap rumah. Inilah pendapat yang disampaikan. Abdullah bin Ubay sangat menyetujui akan pendapat ini, yang pada saat itu dia juga ikut hadir dalam majlis permusyawaratan sebagai wakil dari pemuka Khozroj. Dia menyetujui pendapat ini bukan karena faktor strategi perang, tetapi agar memungkinkan baginya untuk menjauhi peperangan tanpa mencolok mata dan dia bisa menyelinap tanpa diketahui oleh seorang pun.

Namun ALLooh SWT berkeinginan melecehkan dirinya dan rekan-rekannya di hadapan orang-orang Muslim untuk pertama kalinya, dan menyingkap tabir yang dibelakangnya ada kekufuran dan kemunafikan.

Sehingga dalam kondisi yang sangat rawan itu orang-orang Muslim bisa mengatur ular-ular berbisa yang menyelinap di balik kesamar-samaran.

Sekumpulan para sahabat yang tidak ikut serta dalam perang Badar sebelumnya, mengusulkan kepada Nabi Muchammad SAW agar ke luar dari Madinah. Bahkan mereka sangat ngotot dengan usulan ini. di antara tokoh kelompok yang sangat berantusias ini adalah Hamzah bin Abdul Muththolib, paman RosuuluLLooh SAW, yang pada perang Badr dia hanya menggantungkan pedangnya. Dia berkata kepada beliau SAW, “Demi yang telah menurunkan Al Kitab kepada engkau, aku tidak akan memberi makanan sehingga membabat mereka dnegan pedangku di luar Madinah.”

RosuuluLLooh SAW mengabaikan pendapat beliau sendiri karena mengikuti pendapat yang mayoritas. Maka ditetapkan untuk keluar Madinah dan bertempur di kancah terbuka.

Saturday, 11 April 2020

Ketika Izin Berperang Telah Turun


TAFSIR SURAT Al-HAJJ 41 TUJUAN PENDIDIKAN NAMA : AHMAD KHOIRUL ...
Dalam kondisi ummat Islam di Madinah yang masih rawan, karena adanya ancama terhadap eksistensi orang-orang Muslim di Madinah, terutama yang bersumber dari pihak Quroisy yang tidak pernah berhenti memperdayai dan menggangu mereka, maka ALLooh SWT menurunkan ayat dan mengizinkan orang-orang Muslim untuk angkat senjata berperang, yang berati tidak bersifat wajib, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya ALLooh benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” [QS. Al-Haj: 39]

Ayat ini diturunkan di antara ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin hanya dimaksudkan untuk mengeyahkan kebatilan dan menegakkan syiar-syiar ALLooh, “(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.” [QS. Al-Hajj: 41]

Yang benar dan yang tidak perlu diragukan, bahwa izin ini turun di Madinah setelah hijrah, bukan di Makkah sebelum hijrah. Tetapi memang kita tidak bisa memastikan pembatasan waktu turunnya. Izin untuk berperang ini sudah turun. Tetapi ada baiknya jika sikap yang diambil orang-orang Muslim dalam kondisi yang dipicu Quroisy dan kekuatannya ini, ialah dengan cara menunjukkan kekuatan terhadap jalur perdagangan Quroisy yang mengambil rute dari Makkah ke Syam. Untuk menunjukkan kekuasaan ini, RosuuluLLooh SAW telah memilih dua langkah: pertama, mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang, dengan beberapa kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan ini, atau menjadi penghalang antara jalur itu dan Madinah. Kedua, mengirim beberapa kelompok utusan secara terus-menerus dan bergiliran ke jalur perdagangan itu.

PASUKAN SEBELUM PERANG BADAR
Untuk melaksanakan dua langkah ini, orang-orang Muslim memulai dengan kegiatan militer, langsung setelah turun izin untuk berperang. Mereka memulai kegiatan militer dengan mengirimkan mata-mata. Sasaran dari kegiatan mata-mata ini ialah untuk mengenal lebih lanjut tentang jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah. Begitu pula jalur ke Makkah, mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur itu, memperlihatkan kepada orang-orang Musyrik Yatsrib, Yahudi dan suku-suku badui di sekitarnya bahwa kaum Muslim adalah orang-orang yang kuat, bahwa mereka bisa melepaskan dari kelemahan pada masa-masa sebelumnya serta memberi peringatan kepada pihak Quroisy, sebagai akibat dari kebrutalan mereka. Dengan begitu mereka tidak lagi berbuat semena-mena, yang selama ini masih terus membayangi pikiran orng-orang Muslim. Siapa tahu dengan cara itu pihak Quroisy merasa khawatir terhadap keamanan jalur perdagangan mereka, lalu mendorong mereka untuk mengadakan perdamaian, membatalkan niat untuk menyerbu orang-orang Muslim, tidak menghalangi manusia untuk mengikuti jalan ALLooh SWT, tidak lagi menyiksa orang-orang Mukmin yang lemah di Makkah, sehingga orang-orang Muslim bebas menyampaikan risalah ALLooh SWT di seluruh jazirah Arab. Berikut gambaran singkat tentang beberapa pasukan Muslimin:

Pertama, pengiriman satuan pasukan ke Siful-Bahr pada tanggal satu Romadhon tahun pertama hijrah, atau pada tahun 623 M untuk memimpin satuan pasukan ini RosuuluLLooh SAW menunjuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muththolib, bersama 30 orang Muhajirin untuk menghadang rombongan kafilah Quroisy yang kembali dari Syam, yang di tengah rombongan itu ada Abu Jahal bin Hisyam bersama 300 orang. Sebenarnya mereka sudah saling berhadap-hadapan dan siap untuk berperang. Namun muncul Majdi bin Amr Al-juhhani, yang menjadi sekutu kedua belah pihak. Dia melerai kedua belah pihak, sehingga mereka urung berperang. Bendera dalam satuan pasukan Hamzah adalah bendera pertama yang diserahkan RosuuluLLooh SAW. Warnanya putih dan pembawanya adalah Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghonwi.

Kedua, satuan pasukan ke Robigh. Pada tanggal satu Syawwal 1 H, RosuuluLLooh SAW mengirim pasukan Ubaidah bin Al-Harits bin Abdul Muththolib bersama 60 orang Muhajirin, hingga mereka berpapasan dengan Abu Sufyan yang membawa 200 orang di lembah Robigh. Sebenarnya kedua belah pihak sudah saling melepaskan anak panah. Meskipun begitu tidak sampai meletus peperangan. Dalam pengiriman pasukan kali ini, ada dua pasukan Quroisy yang bergabung ke barisan Muslimin, yaitu Al-Miqdad bin Amr Al-Bahroni dan Utbah bin Ghozwan Al-Manini. Keduanya pun masuk Islam.

Dia pergi bersama-sama orang kafir sekedar jalan agar dia bisa bergabung dengan orang-orang Muslim. Bendera Ubaidah juga berwarna putih, pembawanya adalah Misthoh bin Utstsasah bin Al-Muththolib bin Abdu Manaf. [BERSAMBUNG]

Saturday, 4 April 2020

Menghafal Al-Qur’an Hanya Dalam 8 Hari


Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (Pelopor Penulisan Hadits)

Biografi Muhammad bin Syihab Az-Zuhri * Dosen Muslim
Beliau dilahirkan di tahun 58 Hijriah, di akhir kepemimpinan Sayyidina Muawiyah. Pada tahun itu juga terjadi kejadian wafatnya Siti Aisyah RAnha, istri RosuuluLLooh SAW. Ibnu Syihab Az-Zuhri tinggal di Ailah sebuah desa antara Hijaz dan Syam, reputasinya menyebar sehingga ia menjadi tempat berpaling bagi para ulama Hijaz dan Syam. Selama delapan tahun Ibnu Syihad Az-Zuhri ia tinggal bersama Sa’id bin Al-Musayyab di sebuah desa bernama Sya’bad di pinggir Syam. Di sana pula ia wafat.

Az-Zuhri adalah nama panggilan yang dsematkan oleh para ulama ahli hadits. Selain Az-Zuhri, dalam beberapa literatur beliau juga disebut dengan nama panggilan Abu Bakar Al-Madani. Beliau adalah seorang yang kaya lagi dermawan. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Daulah Bani Umayyah. ALLooh SWT mengaruniakan kepada beliau kecerdasan yang tinggi dan kekuatan hafal yang mengagumkan. Dengan itu semua beliau mendapat kedudukan tinggi terutama dalam bidang ilmu hadits, dan kepada beliau bermuaralah ilmu hadits. Beliaulah orang pertama yang membukukan ilmu hadits atas perintah Kholifah Umar bin Abdul Aziz.

Az-Zuhri tumbuh menjadi seorang remaja di sebuah kota kecil di antar hijaz dan syam, bernama Ailah. Salah satu sahabatnya bernama Sholih bin Kisan memberikan kesaksian, “Aku menuntut ilmu bersama Az-Zuhri, dia berkata kepadaku: ‘Mari kita tulis apa yang berasal dari Nabi SAW,’ pada kesempatan yang lain dia berkata pula, ‘mari kita tulis apa yang berasal dari sahabat,’ dia menulis dan aku tidak. Akhirnya dia berhasil dan aku gagal.”

Para ulama mengatakan, ketika itu tulisan-menulis memang belum menjadi budaya bagi masyarakat arab, karena sebagian besar dari mereka masih ummi (tidak bisa membaca dan menulis) dan menyimpan ilmunya dengan mengandalkan kekuatan hafalan. Namun Az-Zuhri memiliki prinsip beda, beliau tetap menghafal, namun memiliki nilai lebih yakni menulis. Kegigihannya dalam membukukan hadits pun akhirnya mendapat dukungan besar dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz. Dan Imam As-Suyuthi dalam bait Alfiah-nya mengatakan: “Orang pertama yang membukukan hadits dan atsar adalah Ibnu Syihab atas perintah Umar.”

Lebih dari 2200 hadits berhasil dihafal oleh Az-Zuhri, dan beberapa diantaranya tertulis dalam kitab Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Beberapa ulama pun memujinya dengan pujian bahwa sanad hadits terkuat adalah yang berasal dari jalur Az-Zuhri dari Salim dari Bapaknya.

Abu Bakar Al-Hudzalli mengatakan, “Aku telah duduk bermajelis kepada Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin, namun aku tidak melihat seorang pun yang semisal dengan Imam Az-Zuhri.”

Bila dibandingkan beliau, maka Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin jauh di atas beliau karena mereka adalah termasuk para tabi’in senior, tetapi ilmu adalah semata-mata anugerah dari ALLooh SWT. ALLooh SWT mengaruniakan keutamaan dan Rohmah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Beliau banyak mengambil ilmu dari para tabi’in senior seperti kepada Sayyidut Tabi’in Sa’id bin Musayyib (Sa’id bin Musayyab), Urwah bin Zubair, Al-Qosim bin Muchammad, Anas bin Malik, Aban bin Utsman, Ibrohim bin Abdurrohman bin Auf, dan Nafi’ Mula Ibnu Umar.

Sementara itu, beberapa murid ternama beliau antara lain. Imam Malik bin Anas “Imam Daril Hijrah”, Al-Laits, Zaid bin Aslam, Sufyan bin Uyainah, Umar bin Abdul Aziz, dan Muchammad bin Al-Munkadir.

Az-Zuhri meriwayatkan hadits bersumber dari AbduLLooh bin Umar, AbduLLooh bi Ja’far, Shol bin Sa’ad, Urwah bin Az-Zubair, Atho’ bin Abi Robah. Ia juga mempunyai riwayat-riwayat yang berasal dari Ubadah bin Ash-Shomit, Abu Huroiroh, Rafi’ bin Khudaij, dan beberapa lainnya.

Imam Bukhori berpendapat bahwa sanad yang paling shohih adalah Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya.

Sedangkan Abu Bakar bin Abi Syaibah menyatakan bahwa sanadnya yang paling shohih adalah Az-Zuhri, dari Ali bin Husain, dari bapaknya dari kakeknya (Ali bin Abi Tholib). Muchammad bin Muslim bin UbaidiLLaah bin AbduLLooh wafat di Sya’bad pada tahun 123 H, ada yang mengatakan ia wafat tahun 125H.

PUJIAN ULAMA
Amr bin Dinar mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang hadits dibandingkan Ibnu Syihab (Imam Az-Zuhri).”
Ahmad bin Hambal berkata, “Az-Zuhri adalah manusia yang terbaik haditsnya dan terbagus jalan sanadnya.”

Al-Laits menyatakan, “Aku tidak melihat seorang alim pun yang lebih luas ilmunya dibandingkan Imam Az-Zuhri. Tatkala beliau berbicara tentang targhib (nasihat dan anjuran), engkau akan katakan: ‘Tidak ada yang terbaik kecuali beliau’, bila beliau berbicara tentang hari-hari Arab dan penyebutan nasab, engkau akan katakan: ‘Tidak ada penyebutan nasab, engkau akan katakan: ‘Tidak ada yang terbaik kecuali beliau’, dan bila beliau sedang berbicara tentang Al-Qur’an dan hadits, engkau pun akan mengatakan yang semisal.” Imam Makhul pernah ditanya, “Siapa orang yang paling alim yang pernah engkau jumpai?” Ia menjawab, “Ibnu Syihab.” Lalu ditanyakan, “Siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibnu Syihab.” “Dan siapa lagi?” Beliau tetap menjawab, “Ibnu Syihab.”

KEUNGGULAN
Tak ada seorang pun yang terlahir ke alam dunia ini dalam keadaan berilmu, telah hafal Al-Qur’an dan hadits, memiliki pemahaman yang benar dari pemahaman yang menyimpang, tentu tidak ada. Seluruhnya sama, namun yang membedakan adalah bekal yang cukup dan ketinggian semangat. Tentunya hal itu tidak terlepas dari Rohmah dan Fadhilah (keutamaan) dari ALLooh SWT. Tidaklah beliau menjadi Syaikhul Islam kecuali setelah melakukan upaya yang tidak dilakukan oleh selainnya, demikian juga Az-Zuhri tidaklah beliau menjadi Imam Az-Zuhri melainkan karena beliau memiliki beberapa faktor pendukung yang tidak dimiliki oleh yang selainnya. Di antara sebab-sebab dan faktor pendukung beliau adalah:

Pertama, Kekuatan Hafalan. Kekuatan hafalan beliau menjadi tanda yang nyata akan keutamaan beliau. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Di antara yang menunjukkan kekuatan hafalan Imam Az-Zuhri adalah beliau mampu hafal Al-Qur’an hanya dalam waktu 8 hari, sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh putra saudara beliau, Muchammad bin AbdiLLaah.” Imam Az-Zuhri pernah mengatakan, “Aku tidak pernah melakukan persiapan dalam menyampaikan hadits, dan aku tidak pernah ragu tentang hafalanku kecuali satu hadits, aku tanyakan kepada saudaraku, ternyata itu pun sama dengan yang aku hafal.” Al-Laits berkata, “Ibnu Syihab pernah mengatakan, ‘Tidaklah sedikit pun sesuatu yang telah aku hafal lalu aku lupa setelahnya’.”

Kedua, beliau menulis seluruh yang ia dengar. Dari Abdurrahman bin Abi Zinad dari ayahnya ia berkata, “Aku pernah berthowaf bersama Ibnu Syihab, dan ia membawa lembaran-lembaran dan buku tulis sampai kami menertawakannya.” Dalam riwayat lain, “Kami menulis perkara halal dan haram sedangkan Ibnu Syihab menulis semua yang ia dengar, ketika kami merasa butuh dengan beliau, barulah kami tahu bahwa beliau manusia yang paling mengetahui.”

Ketiga, memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Imam Az-Zuhri pernah bercerita, “Aku pernah datang ke rumah Urwah bin Zubair, di depan pintu aku berhenti hingga akhirnya aku pergi dan tidak jadi masuk, seandainya aku pergi dan tidak jadi masuk, itu tidak aku lakukan yang demikian karena memuliakan beliau.” Dari Sufyan ia mengatakan, “Aku mendengar Az-Zuhri mengatakan, ‘Si Fulan telah menceritakan hadits kepadaku dan beliau adalah lautan ilmu’, tidak hanya sekedar mengatakan ‘beliau adalah seorang yang alim’.“ Beliau lakukan itu karena memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Beliau sangat menghormati gurunya, memuliakannya, karena merekalah orang-orang yang banyak memberi manfaat dan kebaikan, dan demikianlah para guru mengajarkan kepada kita.

Keempat, mengambil sebab untuk membantu kuatnya hafalan. Imam Az-Zuhri pernah mengatakan, “Barangsiapa yang senang menghafal hadits hendaklah ia memakan kismis/ anggur kering.” Al-Hakim mengomentari, “Karena kismis/ anggur keringnya negeri Hijaz hangat, manis dan lembut, terlihat kering, dan dapat mencegah lendir.” Al-Laits mengatakan, Imam Az-Zuhri sering meminum madu seperti minumnya seorang terhadap minumannya, beliau mengatakan, ‘Beri kami minum madu dan ceritakanlah hadits kepadaku.’ Dan beliau sangat sering minum madu, dan tidak makan apel sedikit pun.” Beliau (Al-Laits) juga mengatakan, “Az-Zuhri pernah mengatakan, ‘Tidaklah sesuatu yang telah melekat di hatiku lalu lupa di kemudian hari.’ Beliau membenci makan apel, namun beliau senang meminum madu. Katanya, ‘Madu itu dapat mempertajam ingatan’.”


Friday, 20 March 2020

BERJUTA HIKMAH ISRO’ MI’ROJ


Image result for isra mirajIsro’ Mi’roj adalah sebuah perjalanan qudus Baginda Nabi SAW. Betapa tidak, perjalanan ini menegaskan keluhuran derajat beliau di sisi ALLooh SWT, Sang Maha Raja alam semesta. Tiada makhluk yang lebih adiluhung derajatnya disanding beliau. Beliau adalah kreasi paripurna dan termulia, yang mendapat kehormatan untuk berjumpa langsung dengan ALLooh sebelum beliau meninggal dunia. Dengan pertemua sacral itu, berarti Baginda Nabi SAW telah menggapai puncak tangga hakikat.

Bagi ummat Islam, Isro’ Mi’roj merupakan peristiwa yang menguji level keimanan. Tatkala Baginda Nabi SAW menceritakan perjalanan lintas alam yang ditempuhnya hanya dalam sekejap, iman sebagian ummat Islam langsung terguncang. Mereka menganggap beliau sudah “ngelantur” hingga akhirnya mereka menjadi murtad. Sebagian sahabat yang lain malah semakin kokoh keimanannya. Tanpa meminta bukti konkrit atau dalil ilmiah, mereka menyatakan percaya kepada kisah perjalanan dahsyat itu. Mereka inilah insan-insan mukmin pilihan yang pasrah kepada semua ketentuan ALLooh SWT dan meyakini secara total sabda-sabda Baginda Nabi SAW.

Di samping itu, Isro’ Mi’roj adalah peristiwa yang memendam banyak hikmah dan perjalanan penting yang bisa dipetik oleh setiap orang yang punya pikiran jernih. Ada bejibun hikmah agung yang mesti direnungkan ummat Islam dalam setiap sesi perjalanan Baginda Nabi SAW. Bila bepergian keluar kota saja kita bisa dengan perjalanan lintas dunia dan lintas alam semesta.

Perjalanan Isro’ Mi’roj dihadiahkan ALLooh SWT kepada Baginda Muchammad SAW setelah beliau mengalami serangkaian cobaan berat. Beliau ditinggal pergi dua manusia terkasih yang selama ini melindungi dan menaungi beliau dari intimidasi kaum kafir Quroisy. Mereka adalah pamanda Abu Tholib dan istri terkasih Siti Khodijah putri Khuwailid. Sepeninggal mereka, terror kaum kafir Quroisy kepada beliau kian mengganas. Beliau nyaris terbunuh di depan Ka’bah karena leher beliau dijerat oleh Uqbah bin Abi Muaith pada waktu beliau beribadah. Beruntung Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq segera datang untuk menyelamatkan beliau. Beliau juga dilempari batu, tanah dan kotoran binatang oleh musuh-musuhnya.

Setelah cobaan datang bertubi-tubi, ALLooh SWT menghibur beliau dengan sebuah travel yang paling mengesankan sepanjang sejarah alam semesta. Beliau diajak jalan-jalan menyambangi tempat-tempat paling bersejarah di atas dunia. Kemudian beliau menyinggahi setiap lapisan langit yang tentu memiliki panorama super eksotik. Tidak hanya itu, beliau juga menengok surga dan neraka, dua tempat yang hanya bisa dikunjungi manusia setelah mengalami kematian. Masih banyak lagi destinasi menakjubkan yang disaksikan Baginda Nabi SAW dan puncaknya adalah berjumpa ALLooh SWT.

Dari sini mungkin kita bisa mengambil pelajaran bahwa ada baiknya sekali-sekali kita melakukan traveling atau perjalanan untuk menghilangkan penat. Sebagai manusia, tentu normal mengalami rasa bosan dengan aktivitas sehari-hari. Bila dipaksakan terus, kebosanan itu bisa memantik stress yang tentu sangat tidak bagus bagi kondisi kejiwaan. Penting bagi kita untuk sekali-sekali keluar dari rutinitas sehari-hari. Tengoklah luasnya dunia yang diciptakan ALLooh SWT. Di luar tempat kita tinggal, terbentang keindahan alam. Betapa banyak pelajaran dari kehidupan lain yang berdenyut di atas dunia. Dengan begitu, pikiran kita bakal segar kembali dan siap dijejali lagi dengan seabrek tugas baru.

Sebelum berangkat Isro’ Mi’roj, Baginda Nabi Muchammad SAW mengalami penyucian hati dalam arti sebenarnya. Dada beliau dibelah oleh malaikat, kemudian hati beliau dicuci dengan air zam-zam. Setelah itu hati beliau dituangi iman dan hikmah. Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud hikmah ialah pengetahuan tentang makrifat kepada ALLooh serta terbukanya mata hati, kebersihan diri, dan terkuaknya kebenaran secara nyata. Penyucian ini sangat penting, karena sebentar lagi beliau akan menghadap ALLooh SWT.

Penyucian hati Baginda Nabi SAW tidak berarti hati beliau kotor. Beliau adalah pemimpin para Nabi yang terjaga dari segala dosa dan karat hati. Penyucian itu dilakukan dalam rangka menambah kesucian pribadi beliau. Selain itu, juga untuk memberi pelajaran kepada ummat Islam, bahwa sebelum menghadap ALLooh lewat sholat, mereka mesti menyucikan diri dan hati mereka. Menyucikan diri dengan wudhu atau mandi, lalu menyucikan hati dengan taubat dan istighfar. Seperti disabdakan Baginda Nabi SAW, sholat adalah mi’rojnya kaum muslimin. Dengan sholat mereka menghadap serta berdialog dengan ALLooh SWT. Bedanya, Baginda Nabi SAW menyaksikan ALLooh SWT secara langsung sedangkan ummatnya tidak secara langsung.

Pada perjalanan Isro’ Mi’roj yang menakjubkan itu, Baginda Nabi SAW diajak singgah ke tempat-tempat yang menyimpan berkah dan punya nilai historis tinggi. Hal ini terungkap dalam hadits riwayat Imam An-Nasa’i berikut, “Aku diberi seekor hewan yang lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghol. Langkah hewan itu sejauh pandangannya. Aku menungganginya, dan Jibril AS mendampingiku. Aku pun pergi. Di sebuah tempat Jibril berkata, “Turunlah, sholatlah di sini.” Aku pun turun dan sholat. Setelah itu JIbril berkata, “Tahukah dimana engkau tadi sholat? Engkau tadi sholat di Thoibah (Madinah), di sanalah tempat hijrahmu.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan sholatlah.” Aku pun melaksanakan permintaannya. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi sholat? Engkau sholat di Thursina, di mana ALLooh Azza wa Jalla berbicara kepada Musa AS.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan sholatlah.” Aku pun turun dan sholat. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi sholat? Engkau sholat di Bethlehem, tempat kelahiran Isa AS.” Setelah itu aku memasuki Baitul Maqdis, di mana semua Nabi AS dikumpulkan untuk (bertemu dengan)ku. Jibril kemudian membawaku ke depan (untuk menjadi imam). Aku pun lalu mengimami mereka…” [HR. Imam Nasa’i]

Hadits di atas mengingatkan kita tentang pentingnya menyambangi tempat-tempat yang penuh berkah. Tempat yang berkah senantiasa dipancari Rohmat ALLooh SWT, sehingga orang yang singgah di situ merasa tentram dan beroleh banyak kebaikan. Keberkahan suatu tempat bergantung kepada penghuni dan proses pembuatannya. ALLooh SWT berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. [QS. Al-A’rof: 96]

Di samping itu, dalam perjalanan Isro’ Mi’roj, Baginda RosuuluLLooh SAW dipertemukan dengan para Nabi dan Rosul. Selain memberikan nilai lebih dan hikmah dalam perjanan itu, pertemuan itu memberi pelajaran kepada ummat Islam akan pentingnya menjumpai orang-orang sholeh. Berkah dan kebaikan yang banyak akan tercurah dalam  majelis – majelis orang-orang sholeh. Demikian pula hikmah dan kebijaksanaan, seperti yang dialami Baginda Nabi SAW di malam Isro’ Mi’roj itu.

Di langit pertama, beliau bertemu Nabi Adam AS dengan bentuk dan postur seperti pertama kali ALLooh menciptakannya. Baginda Nabi SAW uluk salam kepadanya, dan Nabi Adam AS menjawab salam beliau seraya berkata, “Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan Nabi yang sholeh.”

Di samping kanan Nabi Adam AS bersemayam ruh para penghuni surga dan di sebelah kirinya bersemayam ruh para penghuni neraka. Bila menoleh ke arah kanan, Nabi Adam AS tersenyum, dan bila menoleh ke kiri beliau menangis.

Hikmah pertemuan di langit pertama ini adalah, bahwa setelah Isro’ Mi’roj, Baginda Nabi SAW akan berhijrah ke Madinah karena teror kaum kafir Quroisy seperti halnya Nabi Adam AS yang keluar dari surga gara-gara permusuhan iblis. Hikmah lainnya adalah, sebagaimana Nabi Adam AS mempersiapkan kemakmuran bumi lewat anak-cucunya, maka di awal Hijrah, Baginda Nabi SAW akan mempersiapkan kejayaan Islam.

Di langit kedua, Baginda Nabi SAW berjumpa Nabi Isa dan Nabi Yahya AS. Baju dan gaya rambut keduanya hampir serupa. Baginda Nabi SAW melukiskan postur Nabi Isa AS sedang, kulitnya putih kemerah-merahan warna, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam karena kebersihan tubuhnya. Bagindan Nabi SAW mengucapkan salam kepada keduanya, dan mereka menjawab seraya memberi sambutan, “Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan Nabi yang sholeh.”

Pertemuan di langit kedua ini mencerminkan apa yang akan dialami Baginda Nabi SAW di tahun kedua Hijrah. Beliau akan mendapat intimidasi dari golongan Yahudi seperti yang dialami mereka berdua. Namun begitu, beliau akan mendapat bantuan dari kaum Anshor (muslimin Madinah) dalam perang Badar, seperti Nabi Isa mendapat bantuan dari kaum Hawariyin.

Di langit ketiga, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf AS. Baginda Nabi SAW berkomentar: “Sungguh ia telah dikaruniai separuh ketampanan.” Hikmah perjumpaan di langit ketiga ini adalah, bahwa pada tahun ketiga Hijriah, beliau akan mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yusuf AS. Pada perang Uhud di tahun ketiga, beliau dan ummat Islam memang mengalami musibah besar.

Kemudian di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS, manusia pertama yang memperkenalkan baca-tulis. Hikmah pertemua ini adalah, bahwa pada tahun keempat Hijriah, Baginda Nabi SAW menggunakan surat-menyurat sebagai sarana dakwah kepada sejumlah raja di dunia. Di tahun ini juga beliau mengangkat juru tulis dan membuat stempel.

Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun AS. Separuh janggutnya hitam dan separuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Hikmah pertemuan di langit kelima ini adalah, bahwa pada tahun kelima Hijriah, Baginda Nabi SAW akan dikhianati orang-orang Yahudi seperti Nabi Harun AS dikhianati Bani Isroil.

Di langit keenam beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, Nabi kebanggaan Bani Isroil. Postur tubuh beliau tinggi dan kulit beliau putih kemerah-merahan. Baginda Nabi SAW mengucapkan salam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa AS berkata, “Manusia (Bani Isroil) mengaku bahwa aku adalah manusia paling mulia di sisi ALLooh, padahal dia (RosuuluLLooh SAW) lebih mulia di sisi ALLooh daripada aku.”

Tatkala Baginda Nabi SAW hendak melanjutkan perjalanan, Nabi Musa AS menangis. Ketika ditanya akan hal itu, beliau menjawab, “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, ternyata ummatnya lebih banyak masuk surga daripada ummatku.”

Beliau menangis bukan karena iri dan dengki, akan tetapi menangisi ummatnya yang banyak masuk neraka karena menentangnya. Padahal, seandainya mereka patuh kepadanya, niscaya mereka akan masuk surga dan beroleh kenikmatan-kenikmatan tiada tara. Derajat Nabi Musa AS juga akan semakin dinaikkan bila ummatnya mendapat pahala banyak.

Hikmah pertemuan di langit keenam ini adalah, bahwa di tahun keenam Hijriah Baginda Nabi SAW akan berangkat ke Mekkah untuk menunaikan Haji bersama para sahabat. Namun beliau akan dihalangi oleh orang-orang kafir, seperti halnya Nabi Musa AS pernah dihalangi memasuki Palestina.

Tatkala memasuki langit ketujuh, beliau berjumpa Nabi Ibrohim AS yang tengah duduk sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur. Setiap hari Baitul Makmur dimasuki 70.000 malaikat dan mereka tidak pernah kembali setelah itu. Tentang pertemuan ini, Baginda Nabi SAW bersabda, “Aku berjumpa dengan Nabi Ibrohim waktu malam di-Isro’-kan. Nabi Ibrohim berkata, ‘Sampaikanlah salamku kepada ummatmu. Informasikan kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah SubhanaLLooh wal chamdu liLLaah wa laa ilaaha illaaLLooh waLLoohu akbar.”

Persuaan Baginda Nabi SAW dengan para Nabi dalam perjalanan Isro’ Mi’roj ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak lupa kepada orang-orang sholeh. Pada saat mengunjungi suatu kota, jangan lupa menanyakan keberadaan orang sholeh di kota itu, baik kiai atau pun habib. Sambangi mereka dan mintalah doa dari mereka, sebab berkah dan rohmat tidak jauh dari mereka. Cari pula keberadaan makam para wali yang dikenal sholeh di masa hidupnya. Ziarahi makam mereka, sebab pada hakikatnya mereka masih hidup dan dengan lapang hati akan menemui orang-orang yang menziarahi mereka.

Demikian sekelumit hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan Isro’ Mi’roj Bagindan Muchammad SAW. Andai direnungkan lebih mendalam, sebenarnya masih banyak lagi hikmah yang terpendam. Pada intinya, Isro’ Mi’roj adalah salah satu tanda kebesaran ALLooh SWT dan sekaligus mukjizat Baginda Nabi SAW. Sebagai manusia beriman, tentu kita meyakini bahwa tak ada yang sulit bila sudah berada di dalam ranah qudrot dan irodah ALLooh SWT.

Friday, 13 March 2020

Watsilah ibn Al-Asqa


Perawi Hadits Tentang Nasab Nabi

Watsilah ibn Al-Asqa adalah seorang sahabat Nabi dari suku Kinanah, keturunan Bani Laitsi. Ayahnya bernama Al-Asqa ibn Abdul Uzza. Ia memiliki beberapa nama panggilan seperti Abu Al-Asqa, Abu Syaddad, atau Abu Qirshofah.

Image result for sahabat Watsilah bin Al-AsqaWatsilah ibn Al-Asqa termasuk golongan ahlussufah, orang sepenuhnya menyerahkan dirinya untuk  beribadah kepada ALLooh SWT dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ibnu Al-Atsir menuturkan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa membaktikan dirinya untuk melayani Nabi Muchammad SAW selama tiga tahun. Ia masuk Islam saat Nabi SAW hendak berangkat menuju Tabuk. Ia juga termasuk di antara perawi hadits Nabi Muchammad SAW.

Dalam kitab Shohih, Imam Muslim mencatat sebuah riwayat tentang keutamaan Nabi Muchammad SAW. Ia meriwayatkan dari Al-Walid ibn Muslim dari Al-Auza’i dari Abu Amar dan Syaddad dari Watsilah ibn Al-Asqa bahwa RosuuluLLooh SAW bersabda, “Sungguh ALLooh telah menurunkan Kinanah dari anak keturunan Ismail, melahirkan Suku Quroisy dari Suku Bangsa Kinanah, melahirkan Bani Hasyim dari tengah-tengah Suku Quroisy melahirkanku dari tengah-tengah Bani Hasyim.”

LANGSUNG BERPERANG
Ibnu Al-Atsir menuturkan diri Al-Waqidi bahwa Watsilah ibn Al-Asqa tinggal di pinggiran Madinah sampai ia mendatangi Nabi Muchammad SAW lalu menunaikan sholat shubuh bersama Beliau. Seperti biasa, usai sholat shubuh RosuuluLLooh SAW menengok ke belakang dan memperhatikan para sahabatnya. Pandangan Beliau tertuju kepada Watsilah ibn Al-Asqa, dan Beliau bertanya, “Apa yang membawamu datang ke sini?”

Ia menjawab, “Aku ingin berbaiat.” Atas dasar sesuatu yang kau suka dan yang tidak kau suka?”, “Benar”, “Apakah benar engkau sanggup melakukan apa pun yang kau mampu?”, “Ya, aku sanggup.”

Pada saat itu RosuuluLLooh SAW sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk, sementara Watsilah tidak mempunyai apa pun untuk dibawa berperang. Maka ia berteriak, “Siapakah yang siap menjamin kebutuhanku dan memberikan busur serta anak panahnya?”, “Ka’ab ibn Ujro menjawab, “Aku yang akan menanggungmu dan membawamu nanti malam. Apapun yang kubawa adalah juga milikmu, panahku adalah panahmu”. Watsilah berkata, “Baiklah.” Watsilah melanjutkan, “Semoga ALLooh SWT membalasnya dengan kebaikan. Ia mau membawaku dan memberiku perbekalan. Aku makan bersamanya dan ia telah mengangkat derajatku.”

Ketika RosuuluLLooh SAW mengutus Kholid bin Walid ke Ukaidar Al-Kindi di Daumatul Jandal, Ka’b dan Watsilah ikut serta dalam pasukan tersebut. Pada peperangan itu Watsilah mendapatkan enam ekor unta. Ketika bertemu dengan Ka’b ibn Ujroh, Watsilah berkata, “Keluarlah dan lihatlah unta-unta milikmu!”

Ka’b menjawab sambil tersenyum, “Semoga ALLooh memberkatimu! Aku membawamu bukan berarti aku ingin mengambil milikmu.”

Setelah itu, Watsilah menetap di Bashroh dan membuat sebuah rumah. Lalu dia pindah ke Syam di kampong Balath yang berjarak tiga farsakh dari kota Damaskus. Ia ikut dalam peperangan untuk menaklukkan Damaskus dan berbagai peperangan yang lain, termasuk peperangan di Homs. Kemudian ia pindah ke Palestina dan menetap di Al-Quds. Ada juga yang mengatakan bahwa dia tinggal di Bayt Jabarin.

KELUARGA NABI
Al Muhib Ath-Thobari meriwayatkan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Aku pernah menanyakan Ali di rumahnya, lantas dijawab ia pergi menemui RosuuluLLooh SAW. Tak lama kemudian Ali datang bersama RosuuluLLooh SAW. Beliau memasuki sebuah rumah (rumah Ummu Salamah) diikuti oleh Ali. Beliau duduk di atas tikar, lalu meminta Fatimah duduk di sebelah kanannya dan Ali di sebelah kirinya, sedangkan Hasan dan Husein di kedua sisi Beliau. Kemudian Beliau membacakan firman ALLooh SWT: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyyah dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah ALLooh dan Rosul-Nya. Sesungguhnya ALLooh bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, hai ahlul bait dan membersihkanmu dengan sebersih-bersihnya.”  [QS. Al-Ahzab: 33]

Lalu berdoa, “Yaa ALLooh mereka adalah keluargaku.” Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Sementara aku wahi RosuuluLLooh, apakah termasuk keluargamu?” Beliau menjawab, “Engkau juga termasuk keluargaku.” Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Pengakuan Beliau itulah yang selama ini sangat kuharapkan.”

Abu Hatim dan Ahmad dalam Al-Musnad menyebutkan riwayat ini. Ketika ditanya, “Apa yang dimaksud dengan Al-Rijsu?” Watsilah ibn Al-Asqa menjawab, “Ragu terhadap ALLooh.” Ia juga menuturkan bahwa pertemuan itu terjadi di rumah Ummu Salamah.

Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat yang redaksinya dari Watsilah ibn Al-Asqa, bahwa RosuuluLLooh SAW menambahkan pada bagian akhir doanya, “Yaa ALLooh mereka adalah keluargaku. Dan keluargaku lebih berhak.”

Watsilah ibn Al-Asqa benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Abu Mushar mengatakan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa wafat dalam usia 98 tahun, sedangkan Said ibn Kholid mengatakan bahwa ia wafat dalam usia 105 tahun di Damaskus atau di Baitul Maqdis, Palestina. Semoga ALLooh merohmatinya.

Saturday, 29 February 2020

Getaran Tumbuhan Hantarkan Keimanan


Hidayah ALLooh bisa turun di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan hampir selalu turun kepada orang-orang yang menggunakan pengenalannya kepada Tuhan, Yang Maha Pencipta.

Image result for prof william brown masuk islamMereka yang cenderung kepada kebenaran akan mengikuti hati nuraninya, tunduk kepada agama al-haq. Sedang mereka yang menolak hidayah menyembunyikan kebenaran itu dari qalbunya.

Itu juga yang di alami oleh Profesor William Brown, yang masuk Islam saat menemukan sesuatu yang mungkin ummat Islam sendiri tak melihatnya langsung namun hal itu tertulis di dalam Al-Qur’an. Prof. William menemukan tumbuhan yang bertasbih.\

Kabar keislaman Prof. William mulai tercium khalayak, diawali oleh artikel dalam sebuah makalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, yang mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan Amerika Serikat mengenai suara halus yang tidak bisa didengar oleh teling biasa (ultrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.

FENOMENA MENCENGANGKAN
Selama hampir tiga tahun para ilmu meneliti fenomena yang mencengangkan itu dan berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhahiyah) dengan sebuah alat yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik.

Prof. William Brown, yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut, mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh profesor, pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena itu, bahkan semuanya tercengang, tidak tahu harus berkomentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan Muslim yang berasal dari India. Setelah lima hari mengadakan penelitian dan pengkajian, ternyata ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Namun sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan, “ Kami ummat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu.”

Tidaklah suara denyutan itu melainkan lafadz ALLooh (nama ALLooh Azza wa Jalla) sebagaimana tampak  dalam Oscilloscope. Maka keheningan dan keheranan luar biasa menghiasi aula tempat para ilmuwan muslim tersebut berbicara.

SubhanaLLooh, Maha Suci ALLooh, ini adalah salah satu keajaiban dari sekian banyak keajaiban agama yang haq ini. Segala sesuatu bertasbih menggunakan nama ALLooh Azza wa Jalla.

Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian itu, Prof. William Brown, menemui ilmuwan muslim untuk mendiskusikan ihwal agama yang dibawa oleh seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun yang lalu tentang fenomena ini.

Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya perihal Islam.

Lewat alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi gelombang eletrikoptik yang bisa ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini pula, getaran ultrasonik tersebut bisa dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.

BENTUK LAFADZ ALLOOH
Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka kehadapan tim peneliti Inggris, yang salah seorangnya adalah peneliti muslim itu. Sungguh mengejutkan, karena ternyata getaran halus ultrasonik yang ditransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz ALLooh dalam tulisan Arab, di layar.

Para ilmuwan Inggris itu terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peneliti muslim tersebut lalu mengatakan, temuan itu sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim penelitian Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yan  g dikatakannya.

Sang peneliti muslim kemudian membaca ayat dalam Al-Qur’an, yang maknanya: “Bertasbih kepada ALLooh langit yang tujuh, bumi dan segala yang di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun.” [QS. Al-Isro’ ayat 44]

Setelah menjelaskan ihwal Islam dan ayat tersebut, sang peniliti muslim memberikan hadiah berupa mushhaf Al-Qur’an dan terjemahannya ke Prof. William Brown, pemimpin penelitian tersebut.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Prof. William Brown berceramah di Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat. Ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekun pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang biasa menafsirkannya. Satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan ada dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” ujar Prof. William Brown tenang dan mendalam.

Sang profesor telah mengumumkan ke-Islam-annya di hadapan hadirin yang sedang terperangah.

Dan sejak itu seluruh dunia tahu secara pasti bahwa Prof. William Brown telah menjadi pemeluk agama yang haq, yang tidak ada keraguan pada agama tersebut, serta selaras dengan logika dan ilmu pengetahuan alam.

#JejakMuallaf

AL HABIB MUHAMMAD BIN THOHIR BA’ABUD

12274238_1666958226916340_7230971742746307478_nBeliau berkelahiran Yaman, wafat dan dimakamkan di Maesan, Pelem, Mojo, Kediri.
Dalam rangka dakwah ilalloh, dan mengikuti jejak kebiasaan para leluhurnya semenjak berabad abad yang lalu, maka pada tahun 1919 beliau membulatkan azam dan berniat tulus untuk hijrah ke Indonesia pada usia 40 tahun.
Kota pertama yang beliau singgahi untuk dakwah ini adalah kota Surabaya, kemudian dari Surabaya beliau berpindah ke Madura dan singgah beberapa tahun untuk mengajar disana.
Salah satu santri beliau adalah Al habib Ahmad Baharun, ayah dari Al habib Qosim Baharun, ayahdari Al habib Quraisy Baharun, menantu dari guru kita Al habib Musthofa bin Muhammad Ba’abud.
Kemudian ditengah dakwahnya di Madura, beliau di panggil oleh Al habib Husain bin Muhammad bin Thohir Al haddad untuk hijrah ke Blimbing, Cukir kota Jombang, lalu di nikahkan disana. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 2 orang putra, dan keduanya meninggal dunia.
Pada tahun 1940, beliau Al habib Muhammad bin Thohir Ba’abud di boyong ke Pelem Mojo Kediri dan menikah lagi dengan janda dari Al habib Hasan bin Muhsin Alathos Magelang, lalu bermukim dan berdakwah dengan tulus, telaten dan gigih disana dan daerah sekitarnya.
Beliau adalah sosok sederhana yang amat ramah, senang bersilaturrahimdan dekat dengan siapapun, mulai dari para tokoh masyarakat, para Kyai pimpinan pondok pondok pesantren, bahkan dengan orang awwam.
Beliau juga seorang allamah, mahir dalam keilmuan, bahkan beliau sering dijadikan rujukan berbagai masalah, dan sering pula di undang untuk hadir dalam acara bahtsul masail furu’iyah di berbagai tempat, sebagai pentashih.
Beliau terus berdakwah tanpa kenal lelah dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, hingga akhir hayat.
Beliau wafat pada tahun 1976 dan dimakamkan di pemakaman desa setempat. Tepatnya di depan kediaman putra tertua beliau, yaitu guru kita Al habib Musthofa bin Muhammad Ba’abud.

Sumber Al habib Musthofa Ba’abud.
…!!!ربّ فانْفعنا ببركتهم……واهدنا الحسنى بحرمتهم……وأمتنا فى طريقتهم……ومعافة من الفتن……. آمين………