Friday, 20 March 2020

BERJUTA HIKMAH ISRO’ MI’ROJ


Image result for isra mirajIsro’ Mi’roj adalah sebuah perjalanan qudus Baginda Nabi SAW. Betapa tidak, perjalanan ini menegaskan keluhuran derajat beliau di sisi ALLooh SWT, Sang Maha Raja alam semesta. Tiada makhluk yang lebih adiluhung derajatnya disanding beliau. Beliau adalah kreasi paripurna dan termulia, yang mendapat kehormatan untuk berjumpa langsung dengan ALLooh sebelum beliau meninggal dunia. Dengan pertemua sacral itu, berarti Baginda Nabi SAW telah menggapai puncak tangga hakikat.

Bagi ummat Islam, Isro’ Mi’roj merupakan peristiwa yang menguji level keimanan. Tatkala Baginda Nabi SAW menceritakan perjalanan lintas alam yang ditempuhnya hanya dalam sekejap, iman sebagian ummat Islam langsung terguncang. Mereka menganggap beliau sudah “ngelantur” hingga akhirnya mereka menjadi murtad. Sebagian sahabat yang lain malah semakin kokoh keimanannya. Tanpa meminta bukti konkrit atau dalil ilmiah, mereka menyatakan percaya kepada kisah perjalanan dahsyat itu. Mereka inilah insan-insan mukmin pilihan yang pasrah kepada semua ketentuan ALLooh SWT dan meyakini secara total sabda-sabda Baginda Nabi SAW.

Di samping itu, Isro’ Mi’roj adalah peristiwa yang memendam banyak hikmah dan perjalanan penting yang bisa dipetik oleh setiap orang yang punya pikiran jernih. Ada bejibun hikmah agung yang mesti direnungkan ummat Islam dalam setiap sesi perjalanan Baginda Nabi SAW. Bila bepergian keluar kota saja kita bisa dengan perjalanan lintas dunia dan lintas alam semesta.

Perjalanan Isro’ Mi’roj dihadiahkan ALLooh SWT kepada Baginda Muchammad SAW setelah beliau mengalami serangkaian cobaan berat. Beliau ditinggal pergi dua manusia terkasih yang selama ini melindungi dan menaungi beliau dari intimidasi kaum kafir Quroisy. Mereka adalah pamanda Abu Tholib dan istri terkasih Siti Khodijah putri Khuwailid. Sepeninggal mereka, terror kaum kafir Quroisy kepada beliau kian mengganas. Beliau nyaris terbunuh di depan Ka’bah karena leher beliau dijerat oleh Uqbah bin Abi Muaith pada waktu beliau beribadah. Beruntung Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq segera datang untuk menyelamatkan beliau. Beliau juga dilempari batu, tanah dan kotoran binatang oleh musuh-musuhnya.

Setelah cobaan datang bertubi-tubi, ALLooh SWT menghibur beliau dengan sebuah travel yang paling mengesankan sepanjang sejarah alam semesta. Beliau diajak jalan-jalan menyambangi tempat-tempat paling bersejarah di atas dunia. Kemudian beliau menyinggahi setiap lapisan langit yang tentu memiliki panorama super eksotik. Tidak hanya itu, beliau juga menengok surga dan neraka, dua tempat yang hanya bisa dikunjungi manusia setelah mengalami kematian. Masih banyak lagi destinasi menakjubkan yang disaksikan Baginda Nabi SAW dan puncaknya adalah berjumpa ALLooh SWT.

Dari sini mungkin kita bisa mengambil pelajaran bahwa ada baiknya sekali-sekali kita melakukan traveling atau perjalanan untuk menghilangkan penat. Sebagai manusia, tentu normal mengalami rasa bosan dengan aktivitas sehari-hari. Bila dipaksakan terus, kebosanan itu bisa memantik stress yang tentu sangat tidak bagus bagi kondisi kejiwaan. Penting bagi kita untuk sekali-sekali keluar dari rutinitas sehari-hari. Tengoklah luasnya dunia yang diciptakan ALLooh SWT. Di luar tempat kita tinggal, terbentang keindahan alam. Betapa banyak pelajaran dari kehidupan lain yang berdenyut di atas dunia. Dengan begitu, pikiran kita bakal segar kembali dan siap dijejali lagi dengan seabrek tugas baru.

Sebelum berangkat Isro’ Mi’roj, Baginda Nabi Muchammad SAW mengalami penyucian hati dalam arti sebenarnya. Dada beliau dibelah oleh malaikat, kemudian hati beliau dicuci dengan air zam-zam. Setelah itu hati beliau dituangi iman dan hikmah. Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud hikmah ialah pengetahuan tentang makrifat kepada ALLooh serta terbukanya mata hati, kebersihan diri, dan terkuaknya kebenaran secara nyata. Penyucian ini sangat penting, karena sebentar lagi beliau akan menghadap ALLooh SWT.

Penyucian hati Baginda Nabi SAW tidak berarti hati beliau kotor. Beliau adalah pemimpin para Nabi yang terjaga dari segala dosa dan karat hati. Penyucian itu dilakukan dalam rangka menambah kesucian pribadi beliau. Selain itu, juga untuk memberi pelajaran kepada ummat Islam, bahwa sebelum menghadap ALLooh lewat sholat, mereka mesti menyucikan diri dan hati mereka. Menyucikan diri dengan wudhu atau mandi, lalu menyucikan hati dengan taubat dan istighfar. Seperti disabdakan Baginda Nabi SAW, sholat adalah mi’rojnya kaum muslimin. Dengan sholat mereka menghadap serta berdialog dengan ALLooh SWT. Bedanya, Baginda Nabi SAW menyaksikan ALLooh SWT secara langsung sedangkan ummatnya tidak secara langsung.

Pada perjalanan Isro’ Mi’roj yang menakjubkan itu, Baginda Nabi SAW diajak singgah ke tempat-tempat yang menyimpan berkah dan punya nilai historis tinggi. Hal ini terungkap dalam hadits riwayat Imam An-Nasa’i berikut, “Aku diberi seekor hewan yang lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghol. Langkah hewan itu sejauh pandangannya. Aku menungganginya, dan Jibril AS mendampingiku. Aku pun pergi. Di sebuah tempat Jibril berkata, “Turunlah, sholatlah di sini.” Aku pun turun dan sholat. Setelah itu JIbril berkata, “Tahukah dimana engkau tadi sholat? Engkau tadi sholat di Thoibah (Madinah), di sanalah tempat hijrahmu.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan sholatlah.” Aku pun melaksanakan permintaannya. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi sholat? Engkau sholat di Thursina, di mana ALLooh Azza wa Jalla berbicara kepada Musa AS.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan sholatlah.” Aku pun turun dan sholat. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi sholat? Engkau sholat di Bethlehem, tempat kelahiran Isa AS.” Setelah itu aku memasuki Baitul Maqdis, di mana semua Nabi AS dikumpulkan untuk (bertemu dengan)ku. Jibril kemudian membawaku ke depan (untuk menjadi imam). Aku pun lalu mengimami mereka…” [HR. Imam Nasa’i]

Hadits di atas mengingatkan kita tentang pentingnya menyambangi tempat-tempat yang penuh berkah. Tempat yang berkah senantiasa dipancari Rohmat ALLooh SWT, sehingga orang yang singgah di situ merasa tentram dan beroleh banyak kebaikan. Keberkahan suatu tempat bergantung kepada penghuni dan proses pembuatannya. ALLooh SWT berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. [QS. Al-A’rof: 96]

Di samping itu, dalam perjalanan Isro’ Mi’roj, Baginda RosuuluLLooh SAW dipertemukan dengan para Nabi dan Rosul. Selain memberikan nilai lebih dan hikmah dalam perjanan itu, pertemuan itu memberi pelajaran kepada ummat Islam akan pentingnya menjumpai orang-orang sholeh. Berkah dan kebaikan yang banyak akan tercurah dalam  majelis – majelis orang-orang sholeh. Demikian pula hikmah dan kebijaksanaan, seperti yang dialami Baginda Nabi SAW di malam Isro’ Mi’roj itu.

Di langit pertama, beliau bertemu Nabi Adam AS dengan bentuk dan postur seperti pertama kali ALLooh menciptakannya. Baginda Nabi SAW uluk salam kepadanya, dan Nabi Adam AS menjawab salam beliau seraya berkata, “Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan Nabi yang sholeh.”

Di samping kanan Nabi Adam AS bersemayam ruh para penghuni surga dan di sebelah kirinya bersemayam ruh para penghuni neraka. Bila menoleh ke arah kanan, Nabi Adam AS tersenyum, dan bila menoleh ke kiri beliau menangis.

Hikmah pertemuan di langit pertama ini adalah, bahwa setelah Isro’ Mi’roj, Baginda Nabi SAW akan berhijrah ke Madinah karena teror kaum kafir Quroisy seperti halnya Nabi Adam AS yang keluar dari surga gara-gara permusuhan iblis. Hikmah lainnya adalah, sebagaimana Nabi Adam AS mempersiapkan kemakmuran bumi lewat anak-cucunya, maka di awal Hijrah, Baginda Nabi SAW akan mempersiapkan kejayaan Islam.

Di langit kedua, Baginda Nabi SAW berjumpa Nabi Isa dan Nabi Yahya AS. Baju dan gaya rambut keduanya hampir serupa. Baginda Nabi SAW melukiskan postur Nabi Isa AS sedang, kulitnya putih kemerah-merahan warna, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam karena kebersihan tubuhnya. Bagindan Nabi SAW mengucapkan salam kepada keduanya, dan mereka menjawab seraya memberi sambutan, “Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan Nabi yang sholeh.”

Pertemuan di langit kedua ini mencerminkan apa yang akan dialami Baginda Nabi SAW di tahun kedua Hijrah. Beliau akan mendapat intimidasi dari golongan Yahudi seperti yang dialami mereka berdua. Namun begitu, beliau akan mendapat bantuan dari kaum Anshor (muslimin Madinah) dalam perang Badar, seperti Nabi Isa mendapat bantuan dari kaum Hawariyin.

Di langit ketiga, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf AS. Baginda Nabi SAW berkomentar: “Sungguh ia telah dikaruniai separuh ketampanan.” Hikmah perjumpaan di langit ketiga ini adalah, bahwa pada tahun ketiga Hijriah, beliau akan mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yusuf AS. Pada perang Uhud di tahun ketiga, beliau dan ummat Islam memang mengalami musibah besar.

Kemudian di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS, manusia pertama yang memperkenalkan baca-tulis. Hikmah pertemua ini adalah, bahwa pada tahun keempat Hijriah, Baginda Nabi SAW menggunakan surat-menyurat sebagai sarana dakwah kepada sejumlah raja di dunia. Di tahun ini juga beliau mengangkat juru tulis dan membuat stempel.

Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun AS. Separuh janggutnya hitam dan separuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Hikmah pertemuan di langit kelima ini adalah, bahwa pada tahun kelima Hijriah, Baginda Nabi SAW akan dikhianati orang-orang Yahudi seperti Nabi Harun AS dikhianati Bani Isroil.

Di langit keenam beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, Nabi kebanggaan Bani Isroil. Postur tubuh beliau tinggi dan kulit beliau putih kemerah-merahan. Baginda Nabi SAW mengucapkan salam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa AS berkata, “Manusia (Bani Isroil) mengaku bahwa aku adalah manusia paling mulia di sisi ALLooh, padahal dia (RosuuluLLooh SAW) lebih mulia di sisi ALLooh daripada aku.”

Tatkala Baginda Nabi SAW hendak melanjutkan perjalanan, Nabi Musa AS menangis. Ketika ditanya akan hal itu, beliau menjawab, “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, ternyata ummatnya lebih banyak masuk surga daripada ummatku.”

Beliau menangis bukan karena iri dan dengki, akan tetapi menangisi ummatnya yang banyak masuk neraka karena menentangnya. Padahal, seandainya mereka patuh kepadanya, niscaya mereka akan masuk surga dan beroleh kenikmatan-kenikmatan tiada tara. Derajat Nabi Musa AS juga akan semakin dinaikkan bila ummatnya mendapat pahala banyak.

Hikmah pertemuan di langit keenam ini adalah, bahwa di tahun keenam Hijriah Baginda Nabi SAW akan berangkat ke Mekkah untuk menunaikan Haji bersama para sahabat. Namun beliau akan dihalangi oleh orang-orang kafir, seperti halnya Nabi Musa AS pernah dihalangi memasuki Palestina.

Tatkala memasuki langit ketujuh, beliau berjumpa Nabi Ibrohim AS yang tengah duduk sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur. Setiap hari Baitul Makmur dimasuki 70.000 malaikat dan mereka tidak pernah kembali setelah itu. Tentang pertemuan ini, Baginda Nabi SAW bersabda, “Aku berjumpa dengan Nabi Ibrohim waktu malam di-Isro’-kan. Nabi Ibrohim berkata, ‘Sampaikanlah salamku kepada ummatmu. Informasikan kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah SubhanaLLooh wal chamdu liLLaah wa laa ilaaha illaaLLooh waLLoohu akbar.”

Persuaan Baginda Nabi SAW dengan para Nabi dalam perjalanan Isro’ Mi’roj ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak lupa kepada orang-orang sholeh. Pada saat mengunjungi suatu kota, jangan lupa menanyakan keberadaan orang sholeh di kota itu, baik kiai atau pun habib. Sambangi mereka dan mintalah doa dari mereka, sebab berkah dan rohmat tidak jauh dari mereka. Cari pula keberadaan makam para wali yang dikenal sholeh di masa hidupnya. Ziarahi makam mereka, sebab pada hakikatnya mereka masih hidup dan dengan lapang hati akan menemui orang-orang yang menziarahi mereka.

Demikian sekelumit hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan Isro’ Mi’roj Bagindan Muchammad SAW. Andai direnungkan lebih mendalam, sebenarnya masih banyak lagi hikmah yang terpendam. Pada intinya, Isro’ Mi’roj adalah salah satu tanda kebesaran ALLooh SWT dan sekaligus mukjizat Baginda Nabi SAW. Sebagai manusia beriman, tentu kita meyakini bahwa tak ada yang sulit bila sudah berada di dalam ranah qudrot dan irodah ALLooh SWT.

Friday, 13 March 2020

Watsilah ibn Al-Asqa


Perawi Hadits Tentang Nasab Nabi

Watsilah ibn Al-Asqa adalah seorang sahabat Nabi dari suku Kinanah, keturunan Bani Laitsi. Ayahnya bernama Al-Asqa ibn Abdul Uzza. Ia memiliki beberapa nama panggilan seperti Abu Al-Asqa, Abu Syaddad, atau Abu Qirshofah.

Image result for sahabat Watsilah bin Al-AsqaWatsilah ibn Al-Asqa termasuk golongan ahlussufah, orang sepenuhnya menyerahkan dirinya untuk  beribadah kepada ALLooh SWT dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ibnu Al-Atsir menuturkan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa membaktikan dirinya untuk melayani Nabi Muchammad SAW selama tiga tahun. Ia masuk Islam saat Nabi SAW hendak berangkat menuju Tabuk. Ia juga termasuk di antara perawi hadits Nabi Muchammad SAW.

Dalam kitab Shohih, Imam Muslim mencatat sebuah riwayat tentang keutamaan Nabi Muchammad SAW. Ia meriwayatkan dari Al-Walid ibn Muslim dari Al-Auza’i dari Abu Amar dan Syaddad dari Watsilah ibn Al-Asqa bahwa RosuuluLLooh SAW bersabda, “Sungguh ALLooh telah menurunkan Kinanah dari anak keturunan Ismail, melahirkan Suku Quroisy dari Suku Bangsa Kinanah, melahirkan Bani Hasyim dari tengah-tengah Suku Quroisy melahirkanku dari tengah-tengah Bani Hasyim.”

LANGSUNG BERPERANG
Ibnu Al-Atsir menuturkan diri Al-Waqidi bahwa Watsilah ibn Al-Asqa tinggal di pinggiran Madinah sampai ia mendatangi Nabi Muchammad SAW lalu menunaikan sholat shubuh bersama Beliau. Seperti biasa, usai sholat shubuh RosuuluLLooh SAW menengok ke belakang dan memperhatikan para sahabatnya. Pandangan Beliau tertuju kepada Watsilah ibn Al-Asqa, dan Beliau bertanya, “Apa yang membawamu datang ke sini?”

Ia menjawab, “Aku ingin berbaiat.” Atas dasar sesuatu yang kau suka dan yang tidak kau suka?”, “Benar”, “Apakah benar engkau sanggup melakukan apa pun yang kau mampu?”, “Ya, aku sanggup.”

Pada saat itu RosuuluLLooh SAW sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk, sementara Watsilah tidak mempunyai apa pun untuk dibawa berperang. Maka ia berteriak, “Siapakah yang siap menjamin kebutuhanku dan memberikan busur serta anak panahnya?”, “Ka’ab ibn Ujro menjawab, “Aku yang akan menanggungmu dan membawamu nanti malam. Apapun yang kubawa adalah juga milikmu, panahku adalah panahmu”. Watsilah berkata, “Baiklah.” Watsilah melanjutkan, “Semoga ALLooh SWT membalasnya dengan kebaikan. Ia mau membawaku dan memberiku perbekalan. Aku makan bersamanya dan ia telah mengangkat derajatku.”

Ketika RosuuluLLooh SAW mengutus Kholid bin Walid ke Ukaidar Al-Kindi di Daumatul Jandal, Ka’b dan Watsilah ikut serta dalam pasukan tersebut. Pada peperangan itu Watsilah mendapatkan enam ekor unta. Ketika bertemu dengan Ka’b ibn Ujroh, Watsilah berkata, “Keluarlah dan lihatlah unta-unta milikmu!”

Ka’b menjawab sambil tersenyum, “Semoga ALLooh memberkatimu! Aku membawamu bukan berarti aku ingin mengambil milikmu.”

Setelah itu, Watsilah menetap di Bashroh dan membuat sebuah rumah. Lalu dia pindah ke Syam di kampong Balath yang berjarak tiga farsakh dari kota Damaskus. Ia ikut dalam peperangan untuk menaklukkan Damaskus dan berbagai peperangan yang lain, termasuk peperangan di Homs. Kemudian ia pindah ke Palestina dan menetap di Al-Quds. Ada juga yang mengatakan bahwa dia tinggal di Bayt Jabarin.

KELUARGA NABI
Al Muhib Ath-Thobari meriwayatkan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Aku pernah menanyakan Ali di rumahnya, lantas dijawab ia pergi menemui RosuuluLLooh SAW. Tak lama kemudian Ali datang bersama RosuuluLLooh SAW. Beliau memasuki sebuah rumah (rumah Ummu Salamah) diikuti oleh Ali. Beliau duduk di atas tikar, lalu meminta Fatimah duduk di sebelah kanannya dan Ali di sebelah kirinya, sedangkan Hasan dan Husein di kedua sisi Beliau. Kemudian Beliau membacakan firman ALLooh SWT: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyyah dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah ALLooh dan Rosul-Nya. Sesungguhnya ALLooh bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, hai ahlul bait dan membersihkanmu dengan sebersih-bersihnya.”  [QS. Al-Ahzab: 33]

Lalu berdoa, “Yaa ALLooh mereka adalah keluargaku.” Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Sementara aku wahi RosuuluLLooh, apakah termasuk keluargamu?” Beliau menjawab, “Engkau juga termasuk keluargaku.” Watsilah ibn Al-Asqa berkata, “Pengakuan Beliau itulah yang selama ini sangat kuharapkan.”

Abu Hatim dan Ahmad dalam Al-Musnad menyebutkan riwayat ini. Ketika ditanya, “Apa yang dimaksud dengan Al-Rijsu?” Watsilah ibn Al-Asqa menjawab, “Ragu terhadap ALLooh.” Ia juga menuturkan bahwa pertemuan itu terjadi di rumah Ummu Salamah.

Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat yang redaksinya dari Watsilah ibn Al-Asqa, bahwa RosuuluLLooh SAW menambahkan pada bagian akhir doanya, “Yaa ALLooh mereka adalah keluargaku. Dan keluargaku lebih berhak.”

Watsilah ibn Al-Asqa benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Abu Mushar mengatakan bahwa Watsilah ibn Al-Asqa wafat dalam usia 98 tahun, sedangkan Said ibn Kholid mengatakan bahwa ia wafat dalam usia 105 tahun di Damaskus atau di Baitul Maqdis, Palestina. Semoga ALLooh merohmatinya.

Saturday, 29 February 2020

Getaran Tumbuhan Hantarkan Keimanan


Hidayah ALLooh bisa turun di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan hampir selalu turun kepada orang-orang yang menggunakan pengenalannya kepada Tuhan, Yang Maha Pencipta.

Image result for prof william brown masuk islamMereka yang cenderung kepada kebenaran akan mengikuti hati nuraninya, tunduk kepada agama al-haq. Sedang mereka yang menolak hidayah menyembunyikan kebenaran itu dari qalbunya.

Itu juga yang di alami oleh Profesor William Brown, yang masuk Islam saat menemukan sesuatu yang mungkin ummat Islam sendiri tak melihatnya langsung namun hal itu tertulis di dalam Al-Qur’an. Prof. William menemukan tumbuhan yang bertasbih.\

Kabar keislaman Prof. William mulai tercium khalayak, diawali oleh artikel dalam sebuah makalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, yang mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan Amerika Serikat mengenai suara halus yang tidak bisa didengar oleh teling biasa (ultrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.

FENOMENA MENCENGANGKAN
Selama hampir tiga tahun para ilmu meneliti fenomena yang mencengangkan itu dan berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhahiyah) dengan sebuah alat yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik.

Prof. William Brown, yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut, mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh profesor, pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena itu, bahkan semuanya tercengang, tidak tahu harus berkomentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan Muslim yang berasal dari India. Setelah lima hari mengadakan penelitian dan pengkajian, ternyata ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Namun sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan, “ Kami ummat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu.”

Tidaklah suara denyutan itu melainkan lafadz ALLooh (nama ALLooh Azza wa Jalla) sebagaimana tampak  dalam Oscilloscope. Maka keheningan dan keheranan luar biasa menghiasi aula tempat para ilmuwan muslim tersebut berbicara.

SubhanaLLooh, Maha Suci ALLooh, ini adalah salah satu keajaiban dari sekian banyak keajaiban agama yang haq ini. Segala sesuatu bertasbih menggunakan nama ALLooh Azza wa Jalla.

Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian itu, Prof. William Brown, menemui ilmuwan muslim untuk mendiskusikan ihwal agama yang dibawa oleh seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun yang lalu tentang fenomena ini.

Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya perihal Islam.

Lewat alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi gelombang eletrikoptik yang bisa ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini pula, getaran ultrasonik tersebut bisa dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.

BENTUK LAFADZ ALLOOH
Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka kehadapan tim peneliti Inggris, yang salah seorangnya adalah peneliti muslim itu. Sungguh mengejutkan, karena ternyata getaran halus ultrasonik yang ditransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz ALLooh dalam tulisan Arab, di layar.

Para ilmuwan Inggris itu terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peneliti muslim tersebut lalu mengatakan, temuan itu sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim penelitian Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yan  g dikatakannya.

Sang peneliti muslim kemudian membaca ayat dalam Al-Qur’an, yang maknanya: “Bertasbih kepada ALLooh langit yang tujuh, bumi dan segala yang di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun.” [QS. Al-Isro’ ayat 44]

Setelah menjelaskan ihwal Islam dan ayat tersebut, sang peniliti muslim memberikan hadiah berupa mushhaf Al-Qur’an dan terjemahannya ke Prof. William Brown, pemimpin penelitian tersebut.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Prof. William Brown berceramah di Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat. Ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekun pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang biasa menafsirkannya. Satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan ada dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” ujar Prof. William Brown tenang dan mendalam.

Sang profesor telah mengumumkan ke-Islam-annya di hadapan hadirin yang sedang terperangah.

Dan sejak itu seluruh dunia tahu secara pasti bahwa Prof. William Brown telah menjadi pemeluk agama yang haq, yang tidak ada keraguan pada agama tersebut, serta selaras dengan logika dan ilmu pengetahuan alam.

#JejakMuallaf

AL HABIB MUHAMMAD BIN THOHIR BA’ABUD

12274238_1666958226916340_7230971742746307478_nBeliau berkelahiran Yaman, wafat dan dimakamkan di Maesan, Pelem, Mojo, Kediri.
Dalam rangka dakwah ilalloh, dan mengikuti jejak kebiasaan para leluhurnya semenjak berabad abad yang lalu, maka pada tahun 1919 beliau membulatkan azam dan berniat tulus untuk hijrah ke Indonesia pada usia 40 tahun.
Kota pertama yang beliau singgahi untuk dakwah ini adalah kota Surabaya, kemudian dari Surabaya beliau berpindah ke Madura dan singgah beberapa tahun untuk mengajar disana.
Salah satu santri beliau adalah Al habib Ahmad Baharun, ayah dari Al habib Qosim Baharun, ayahdari Al habib Quraisy Baharun, menantu dari guru kita Al habib Musthofa bin Muhammad Ba’abud.
Kemudian ditengah dakwahnya di Madura, beliau di panggil oleh Al habib Husain bin Muhammad bin Thohir Al haddad untuk hijrah ke Blimbing, Cukir kota Jombang, lalu di nikahkan disana. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 2 orang putra, dan keduanya meninggal dunia.
Pada tahun 1940, beliau Al habib Muhammad bin Thohir Ba’abud di boyong ke Pelem Mojo Kediri dan menikah lagi dengan janda dari Al habib Hasan bin Muhsin Alathos Magelang, lalu bermukim dan berdakwah dengan tulus, telaten dan gigih disana dan daerah sekitarnya.
Beliau adalah sosok sederhana yang amat ramah, senang bersilaturrahimdan dekat dengan siapapun, mulai dari para tokoh masyarakat, para Kyai pimpinan pondok pondok pesantren, bahkan dengan orang awwam.
Beliau juga seorang allamah, mahir dalam keilmuan, bahkan beliau sering dijadikan rujukan berbagai masalah, dan sering pula di undang untuk hadir dalam acara bahtsul masail furu’iyah di berbagai tempat, sebagai pentashih.
Beliau terus berdakwah tanpa kenal lelah dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, hingga akhir hayat.
Beliau wafat pada tahun 1976 dan dimakamkan di pemakaman desa setempat. Tepatnya di depan kediaman putra tertua beliau, yaitu guru kita Al habib Musthofa bin Muhammad Ba’abud.

Sumber Al habib Musthofa Ba’abud.
…!!!ربّ فانْفعنا ببركتهم……واهدنا الحسنى بحرمتهم……وأمتنا فى طريقتهم……ومعافة من الفتن……. آمين………

Thursday, 20 February 2020

Bebaskan Wanita dari Perzinahan


Image result for bebaskan wanita dari perzinahanMungkin ada orang yang bertanya. Bagaimana Islam membebaskan wanita dengan mengharamkan zina? Sementara zina bagian dari kebebasan itu sendiri. Perzinahan bagaikan makanan lezat yang menggiurkan, tetapi di dalamnya ada racun yang mematikan. Jika ada larangan manusia memakannya apakah berarti telah merampas kebebasannya?

Mengapa tidak kita katakan bahwa kelezatan sebuah makanan itu merupakan batasan yang akan menahan dari dorongan seseorang untuk memakannya, karena setelah itu dia akan mati.

Di manakah arti kebebasan di sini? Jadi, ketika Islam melarang praktek perzinahan dalam kehidupan wanita, pada dasarnya Islam menyelamatkan wanita dari kehancurannya. Islam menjaga kehormatannya, mengangkat derajat dan prestisnya. Islam menasehati para istri dengan nasehat-nasehat yang penting. Islam juga memerintahkan pada suami untuk memperlakukan istri-istrinya dengan baik, serta melarang mengambil hak istri berupa hartanya walaupun sedikit saja. Islam menjadikan istri sebagai sumber pahala bagi para suami dengan memelihara dan berbuat baik kepadanya. Islam juga menjanjikan kepada para suami dengan pahala jihad jika mereka berbuat baik kepada istri-istrinya dan menjanjikan pahala jama’ah kepada para istri jika mereka taat pada suaminya. Apakah dengan ini islam dianggap merampas hak wanita ketika Islam memberi batasan pemisah antara wanita dan perzinahan, sementara Islam justru memberikan pahala yang banyak sekali dan menempatkannya di tempat yang luhur.

Sayang Pada Wanita
Alangkah indahnya ungkapan Imam Ar-Rozy dalam menafsirkan firman ALLooh SWT, dalam surat An-Nisa ayat 15. Beliau berkata, “Ketahuilah, bahwa ketika ALLooh SWT, dalam ayat-ayat sebelumnya memerintahkan agar berbuat baik kepada wanita dan mempergaulinya dengan lemah lembut, sedangkan dalam bab ini ALLooh SWT, memberatkan hukuman kepada wanita jika mereka melakukan perzinahan. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Islam menunjukkan kasih sayang kepada wanita dan memperhatikan urusan akhiratnya.

Selain itu ada beberapa manfaat, misalnya agar perintah berbuat baik kepada wanita itu tidak menjadikan sebab bagi mereka untuk tidak dilakukan hukuman kepada mereka. Karena hal itu akan mendorong wanita akan melakukan hal-hal yang merusak. Dan faedah yang terpenting bahwa ALLooh SWT, telah memenuhi janji-Nya kepada makhluk-Nya, maka seharusnya mereka memuhi janjinya kepada Tuhannya. Karena sesungguhnya tidak ada pengaruh kasih sayang dan kekerabatan dalam hukum-Nya. Landasan hukum ALLooh SWT, adalah keadilan dan menjauhi tindakan-tindakan yang melebihi batas atau mengurangi hak, maka ALLooh SWT berfirman, “Dan terhadap wanita yang melakukan perbuatan keji.”

Al-Qurtuby berkata, ketika ALLooh SWT memerintahkan berbuat baik kepada wanita, menyampaikan hak maharnya dan memaparkan bagian warisan yang diperoleh seorang wanita, ALLooh juga menyampaikan perintah tentang hukuman yang sangat berat kepada wanita yang melakukan perzinahan. Agar tidak ada persepsi bahwa wanita boleh meninggalkan hal-hal yang menjaga kehormatannya.

Dalam hal ini As Syaikh Ahmad Musthofa Al-Maraghy dalam tafsirnya memaparkan, “Setelah ALLooh SWT berwasiat untuk memperlakukan wanita dengan baik, menjaga hartanya dan tidak mengambil sebagian dari haknya kecuali dengan izin dan ridhonya, ALLooh SWT menyebutkan sebuah hukuman berat bagi wanita yang melakukan perzinahan. Ini sebenarnya merupakan ungkapan kasih sayang kepada mereka. Karena kasih sayang di dunia ini bisa berbentuk anugerah dan bisa berbentuk larangan atau siksaan, untuk menyelamatkan orang yang bermaksiat dari kehancuran. Syariat Islam berdasarkan asas keadilan dan menjauhkan dari tindakan-tindakan yang melebihi batas atau mengurangi hak.

Kemudian marilah kita perhatikan bukti lain perlindungan Islam terhadap hak dan kehormatan wanita yang disebutkan dalam ayat tersebut dengan memberikan dispensasi terhadap pembebanannya, yaitu firman ALLooh SWT, “Hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya).” Yakni, mintalah persaksian dari empat orang laki-laki merdeka. (bukan budak).

Az-Zuhry berkata, setahun setelah wafatnya RosuuluLLooh SAW, kemudian kedua kholifah ditetapkan, tidak terima persaksian wanita dalam hal hukum-hukum pidana. “Hikmah dari hal ini adalah untuk melanjutkan para wanita dari perangkap perbuatan keji, kejahatan, hukuman dan penyiksaan. Sehingga mereka benar-benar bisa melupakan hal-hal yang keji, tidak pernah berfikir melakukannya dan berhubungan dengan orang-orang yang melakukan hal-hal negative tersebut. Ini adalah keringanan dari beban yang bisa menyita waktu seorang wanita untuk menyampaikan amanatnya dalam menuturkan kesaksian di depan pengacara dan hakim.

Wednesday, 12 February 2020

Pertempuran Hebat Para Malaikat


Image result for haizum kuda perang malaikat jibrilTiba-tiba RosuuluLLooh SAW diserang kantuk hanya dalam sekejap saja. Kemudian beliau mendongakkan kepala seraya bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Inilah Jibril yang datang di atas gulungan-gulungan debu.” Dalam riwayat Muchammad bin Ishaq disebutkan : “RosuuluLLooh SAW bersabda, bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan ALLooh SWT kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”

Kemudian RosuuluLLooh SAW keluar dari pintu tenda, melompat dari sana dengan mengenakan baju besi, seraya membaca ayat, “Sayuhzamu al-jam’u wa yuwalluuna ad-dubur” artinya “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” [QS. Al-Qomar: 45]

Kemudian beliau memungut segenggam pasir lalu mendekat ke arah pasukan Quroisy, sembari bersabda, “Wajah-wajah yang buruk.” Kemudian beliau menaburkan pasir itu ke wajah-wajah mereka. Sehingga tak seorang pun orang musyrik melainkan matanya atau tengkuknya atau mulutnya pasti terkena pasir itu. Tentang hal ini ALLooh SWT menurukan ayat, “Dan, bukan kamu yang melempar tatkala kamu melempar, tetapi ALLooh-lah yang melempar.” [QS. Al-Anfal: 17]

SERANGAN BALIK
Pada saat itu beliau mengeluarkan perintah pamungkas kepada pasukan Muslimin agar mengadakan serangan balik, seraya bersabda, “Kokohkanlah!” lalu beliau memompa semangat mereka untuk terus berperang, dengan bersabda, “Demi diri Muchammad yang ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang diantara mereka berperang pada hari ini, berperang dengan sabar, mengharap keridhoan ALLooh, maju terus pantang mundur, melainkan ALLooh SWT memasukkannya ke dalam surga.” Beliau membangkitkan mereka lagi, “Bangkitlah menuju surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Pada saat itu tiba-tiba Al-Umair bin Al-Hammam berkata, bakhin! Bakhin!, “Apa yang membuatmu berkata bakhin bakhin?” tanya beliau. “Tidak, demi ALLooh wahai RosuuluLLooh ini hanya sekadar harapan agar aku termasuk penghuninya.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau memang termasuk penghuninya.”

Dia mengeluarkan beberapa kurma dari tabungnya lalu memakan sebagian. Namun dia segera melemparkan sambil berkata, “Jika aku masih hidup dan masih memakan kurmaku ini, maka ini adalah kehidupan yang amat lama.” Kemudian dia menyerbu musuh hingga terbunuh. Pada saat itu Auf bin Al-Harits juga bertanya kepada beliau, “Wahai RosuuluLLooh, apa yang membuat Robb tersenyum terhadap hamba-Nya?” beliau menjawab, “Jika dia menjulurkan tangannya ke tengah pasukan musuh tanpa mengenakan baju besi.” Maka seketika itu Auf melepaskan baju besi yang dikenakannya lalu melemparkannya begitu saja. Kemudian dia memungut pedang dan menyerang musuh hingga terbunuh.

Kemudian beliau mengeluarkan perintah agar mengadakan serangan balik. Sebab serangan musuh tidak lagi gencar dan semangat mereka sudah mengendor.

Langkah  bijak ini ternyata sangat ampun untuk mengkokohkan posisi pasukan Muslimin.

Setelah mendapat perintah untuk menyerang, maka mereka pun melancarkan serangan secara serentak dan gencar, mencerai beraikan barisan musuh hingga jatuh korban bergelimpangan di pihak musuh.

Semangat mereka semakin berkobar setelah melihat RosuuluLLooh SAW terjun ke kancah sambil mengenakan baju besi perangnya dan berteriak dengan suara lantang membacakan ayat, “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”

Orang-orang muslim bertempur hebat dengan bantuan para malaikat. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Ikrimah, dia berkata: “Pada saat itu ada kepala orang musyrik yang terkulai, tanpa diketahui siapa yang telah membabatnya. Ada pula tangan yang putus, tanpa diketahui siapa yang membabatnya.”

Ibnu Abbas berkata, “Tatkala seseorang dari pasukan Muslimin berusaha keras menghabisi salah seorang musyrikin di hadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara lecutan cambuk di atasnya dan suara seorang penunggan kuda yang berkata, ‘majulah terus wahai Haizum! Lalu orang muslimin itu memandang orang musyrik di hadapannya yang sudah terjerembab. Seorang Anshor yang melihat kejadian ini menuturkannya kepada RosuuluLLooh SAW.’ Maka beliau bersabda, ‘engkau benar. Itulah pertolongan dari langit yang ketiga.’”

Abu Dawud Al-Mazini berkata, “Selagi aku mengejar salah seorang dari musyrikin untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya sudah tertebas sebelum pedangku mengenainya. Aku sadar bahwa rupanya dia telah dibunuh seseorang selain diriku.”

Ada seorang Anshor yang datang membawa Al-Abbas bin Abdul Muththolib sebagai tawanan. Al Abbas berkata, “Demi ALLooh, bukan orang ini yang tadi menawanku. Tadi aku ditawan seorang laki-laki botak yang wajahnya sangat tampan menunggu seekor kuda yang gagah. Aku tidak pernah melihatnya ada di tengah-tengah mereka.” Orang Anshor itu menyahut, “Akulah yang telah menawannya wahai RosuuluLLooh.” Beliau bersabda, “Diamlah kau, karena ALLooh SWt telah membantumu dengan seorang malaikat yang mulia.”

IBLIS TUNGGANG LANGGANG
Setelah melihat apa yang dialami orang-orang musyrik tatkala berhadapan dengan pasukan Muslimin yang dibantu para malaikat, maka seorang iblis yang berbentuk Suroqoh bin Malik bin Ju’syum yang semenjak semula memang menyertai pasukan Quroisy, segera beranjak untuk melarikan diri dari kancah peperangan. Al Harits bin Hisyam yang melihat gelagatnya itu hendak memegangnya. Tentu saja dia mengira iblis itu benar-benar Suroqoh, “mau kemana kau Suroqoh?” tanya Al-Harits. “Bukankah engkau pernah berkata bahwa engkau akan menjadi pendukung kami dan tidak akan meninggalkan kami?” namun iblis itu memukul dada Al-Harits hingga membuatnya terjengkang.

Kemudian Suroqoh menjawab, “sesungguhnya aku telah melihat apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya aku takut kepada ALLooh. Siksaan ALLooh benar-benar amat pedih.” Setelah itu dia lari dan menceburkan dirinya ke laut.

KEKALAHAN TELAK
Tanda-tanda kegagalan dan kebimbangan mulai merebak di barisan orang-orang musyrik. Sudah cukup banyak korban yang jatuh karena serangan orang-orang muslim yang gencar. Pertempuran mulai mendekati masa akhir. Tidak sedikit orang-orang musyrik yang lebih suka lari dan mundur dari kancah pertempuran. Sehingga hal ini semakin memudahkan orang-orang muslim untuk menawan dan menghabisi lawan. Maka lengkaplah sudah kekalahan orang-orang musyrik.



Thursday, 6 February 2020

HABIB JA’FAR BIN SYAIKHON ASSEGAF ( SANG AL-QUR'AN BERJALAN)

habib ja'far bin syaikhonHabib ja’far bin syaikhon assegaf terkenal sebagai ulama yang memilki karomah dan memilki penghetahuan yang sangat luas tentang Alquran. Jika beliau sedang membaca alquran maka semua yang mendengarkan akan terkesima dengan bacaannya dan seakan akan hurup hurup yang keluar dari bacaan habib Ja’far berbentuk. Lantunan suaranya yang merdu ketika membacakan alquran membuat yang mendengarkannya tersentuh hatinya. Ini yang dirasakan oleh beberapa Ulama ulama yang pernah sholat berjamaah dengannya. Maka tak heran bila salah seorang  Gurunya Habib Muhammad bin Ahmad  muhdor dari Bondowoso  memberi gelar dengan “Alquran berjalan” .

Nama lengkap beliau Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf. Lahir di kota Ghurfah, Hadramaut pada tahun 1298 H. Sejak kecil hinga remaja beliau berguru kepada para ulama ulama masyhur di Hadro maut . Sebagaimana kebanyakan dari para ulama ulama salafus soleh di hadromaut pada waktu itu yang hijrah dan berdakwah keberbagai pelosok , Habib ja’far pun mengikuti pendahulunya untuk hijrah dan berdakwah keluar dari Hadro maut Yaman.  Dan beliau menetap pertama kali di kota Surabaya hingga akhirnya beliau menetap di Pasuruan serta  mendirikan Majlis ta’lim dan Dzikir yang hingga sekarang masih di teruskan oleh salah seorang cucu beliau bernama Habib Taufiq bin Abdul qodir Assegaf.

Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf  terkenal memiliki Karomah yang tampak dan saya pernah dengar dari guru saya bahwa Tasbih besar beliau yang selalu dililitkan di pundaknya berputar dengan sendirinya seperti ada yang menggerakkan. Bahkan pernah suatu ketika ada seorang Tamu yang  tidak percaya dengan Hakekat Wali dan dia datang berkunjung ke rumah Habib Ja’far Assegaf  dan minta di sediakan buah Korma dan tamu tersebut berpikir mana mungkin di Pasuruan ada Korma,  Ketika itu juga Habib Ja’far membuka jendela menjulurkan tangannya keluar jendela dan ternyata di tangan nya sudah ada beberapa buah korma yang masih segar seperti baru di petik dari pohonnya. Bukan main kagetnya Tamu tersebut menyaksikan kejadian luar biasa tersebut.  Beliau juga sangat memuliakan setiap tamu yang datang berkunjung kerumahnya dan beliau sendiri yang menuangkan minuman kedalam gelas para tamu , hal ini dilakukan karena  memuliakan tamu adalah sebagian dari pada keimanan.


Habib Ja’far bin Syaikhon as-Seggaf merupakan  seorang ulama besar dan waliyullah di kota Pasuruan yang bertarekat Alawiyah,  seperti diketahui, tarekat ini dinamakan alawy –selain disandarkan pada pendirinya, Imam Alawi al-Muhajir,- adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sadat yang berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW.  Karena itu, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan adalah dari para Sayyid.
Sepanjang hidupnya Habib Jafar bin syaikhon assegaf di habiskan untuk berdakwah dan beribadah maka tak heran beliau sangat di cintai masyarakat kkhususnya Pasuruan yang mendapat berkah tersendiri oleh kehadiran Habib Ja’far assegaf , Hari senin Tanggal 07 Februari 1955 atau 14 Jumadil akhir 1374 Habib Ja’far bin syikhon Assegaf  kembali ke Rahmatulloh dalam usia yang ke 76 tahun dan di makamkan di masjid jami’ Al anwar Pasuruan dan setiap tahun di bulan Jumadil akhir diadakan haul beliau yang dihadri oleh ribuan Muhibbin dari pelosok daerah.